PENELITIAN
TINDAKAN KELAS
MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA (SPEAKING) SISWA KELAS IX SMPN 3 ABIANSEMAL TAHUN 2014 DENGAN MENGGUNAKAN GAME“JUST A
MINUTE”
OLEH:
KELOMPOK I MGMP BAHASA INGGRIS
BAB
1
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Permendiknas nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi
mengamanatkan pembelajaran bahasa Inggris meliputi empat keterampilan berbahasa
yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Keempatnya tercantum dalam
Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar. Mengajar
bahasa Inggris sebagai bahasa asing menuntut kompetensi profesional guru yang
memadai,dalam arti seorang guru harus memiliki penguasaan yang baik tentang ke
empat keterampilan tersebut.
Menggaris bawahi
keterampilan berbicara, dikaitkan dengan status bahasa Inggris sebagai bahasa
asing, kesempatan untuk menggunakan bahasa Inggris secara lisan dalam kehidupan
sehari-hari siswa sangatlah terbatas, padahal berbicara adalah keterampilan
yang harus terus menerus dipraktikkan dan dilatih. Kenyataannya, sebagian besar siswa
menggunakan bahasa Inggris hanya di sekolah, khususnya di kelas bahasa Inggris!
Hanya empat jam pelajaran per minggu. Tentu hal ini tidak terjadi pada siswa
yang berasal dari keluarga yang di rumahnya tidak asing atau biasa menggunakan bahasa
Inggris untuk berkomunikasi.
Dari uraian di atas, dapat teridentifikasi akar
masalah mengapa keterampilan berbicara siswa rendah, atau dapat dikatakan
banyak siswa yang‘ diam membisu’
ketika
diajak berbicara bahasa Inggris.
Sebagai guru professional, dipundaknya terdapat
tanggung jawab profesi untuk dapat menciptakan kegiatan belajar mengajar ( KBM)
yang betul-betul membelajarkan dan mampu memberi ruang yang cukup pada siswa
untuk berlatih dan mengasah keterampilannya.
Sekarang tergambar jelas apa yang dituntut dari
seorang guru bahasa Inggris adalah menciptakan KBM yang efektif dan berhasil.
Salah satu fokus adalah mengasah keterampilan berbicara. Guru perlu memiliki pengetahuan
luas dan referensi yang cukup untuk dapat menciptakan KBM yang dimaksud,
ditambah dengan kreatifitas dan kemauan yang kuat untuk dapat mengantarkan para
siswa menuju keberhasilan.
Untuk menumbuhkan kesadaran akan tanggung jawab
profesinya, guru perlu dibimbing untuk dapat selalu belajar menemukan teknik-teknik
baru dalam KBM agar siswa selalu antusias belajar..
B.
Identifikasi
Masalah
Sebagian besar siswa ‘diam membisu’ ketika diajak
berbicara dalam bahasa Inggris. Keterampilan
berbicara para siswa masih rendah. Berdasarkan
pengamatan,
hal ini disebabkan karena siswa kurang antusias mengikuti KBM, kurang berlatih
dan takut salah.
C. Rumusan
Masalah.
1.
Sejauh mana permainan ( game) ‘Just-A-Minute!’ dapat membantu siswa kelas 9 untuk meningkatkan
keterampilan berbicara bahasa
Inggris mereka ?.
D.
Tujuan
Penelitian
Tujuan
penelitian ini adalah untuk mengetahui
apakah permainan (game) “Just –A- Minute dapat meningkatkan
ketrampilan berbicara bahasa Inggris siswa
kelas 9 SMP N 3 Abiansemal.
E.
Manfaat
Penelitian
1.
Bagi
siswa
Dengan
menggunakan permainan ( game)
‘Just-A-Minute!’ , siswa mendapat kesempatan mengasah
keterampilan berbicara dengan gembira karena KBM dilaksanakan dalam bentuk
‘game’.
2.
Bagi
Guru
Guru bahasa Inggris
dapat meningkatkan keterampilan berbicara siswa dengan menciptakan KBM yang
efektif.
3.
Bagi
Sekolah
Dengan
meningkatnya keterampilan siswa berbicara bahasa inggris akan meningkatkan
prestasi akademik siswa yang otomatis akan meningkatkan prestasi sekolah di
bidang akademik dan non akademik.
BAB
II
Tinjauan
Pustaka dan Hipotesis Tindakan
2.1 Landasan Teori
A. Belajar Bahasa
Di luar konteks belajar
di kelas, pemerolehan bahasa terbangun dari tiga pendukung. Pertama,semua anak yang
secara terus menerus terpapar dengan suatu bahasa, secara normal akan terbiasa
dengan bahasa tersebut. Secara alamiah paparan bahasa tersebut akan membuat
mereka terbiasa dan dapat memahaminya meskipun mereka belum dapat secara
spontan berbicara dalam bahasa tersebut. Kedua, karena keinginan untuk berkomunikasi,
mereka termotivasi untuk mempelajari bahasa tersebut. Hal terakhir yang
mendukung adalah mereka selalu mendapat kesempatan untuk menggunakan bahasa
yang sedang mereka pelajari.
Harmer (2005:24) mengakui bahwa meniru
pemerolehan bahasa secara alamiah seperti yang diuraikan di atas di dalam kelas
bahasa tidaklah mudah. Namun demikian, setidaknya ada tiga unsur penting yang
harus diterapkan pada sebuah kelas bahasa yang disebutnya dengan ESA (Engage,
Study, Activate).Engage adalah
tahapan pembelajaran sebagai upaya guru membangkitkan minat siswa, yang tentu
saja melibatkan emosi mereka. Lebih jauh Harmer (2005:26) mengatakan:
“Activities
and materials which frequently ENGAGE students include: games(depending on age and type), music, discussion (when
handled challengingly), stimulating pictures, dramatic stories, amusing
anecdotes, etc.”
Study
adalah tahapan kegiatan pembelajaran yang mengarahkan siswa untuk memusatkan
perhatian pada bahasa atau informasi dan cara mengonstruksinya. Activate adalah unsur yang membangun
pembelajaran yang terdiri dari latihan atau kegiatan yang dirancang khusus agar
siswa sedapat mungkin menggunakan bahasa dengan bebas dan komunikatif
B. Konsep Berbicara
Berbicara adalah salah satu keterampilan bahasa yang memiliki kekhususan
dibanding dengan keterampilan berbahasa yang lain. Martin Bygate (1987:47)
menyatakan bahwa berbicara adalah keterampilan yang menuntut perhatian sampai
hal yang rinci. Hal ini disebabkan karena dari keterampilan berbicara, orang
akan menilai kemampuan berbahasa pembicara secara keseluruhan. Bahkan karena
berbicara orang bisa mendapatkan atau kehilangan teman. Bahasa lisan juga merupakan media untuk belajar apa saja. Americana
Encyclopedia, (1986:263) mendeskripsikan
berbicara sebagai media yang
digunakan dalam wacana lisan, biasanya ketika seorang pembicara berkomunikasi
dengan satu atau lebih pendengar.
Berbicara adalah bagian tak
terpisahkan di dalam hidup manusia. Menurut Lado (1961: 241) berbicara adalah
kemampuan untuk mengekspresikan diri dalam berbagai konteks kehidupan seperti
melaporkan tindakan, memilih kata yang tepat, atau menyampaikan pikiran dengan
lancar.
C. Mengajar ‘speaking’ dalam kelas bahasa Inggris
Sebagian besar anak Indonesia
menganggap bahasa Inggris sukar dipelajari terutama berbicara.menghadapi
masalah ini, guru harus mencari cara agar pelajaran berbicara mudah bagi siswa.
Guru tidak boleh terlalu mengkritisi ( over-critical) terhadap kemampuan siswa.
Seperti dinyatakan oleh Cameron (2001: 53), berbicara adalah penggunaan bahasa
secara aktif dan dapat dipahami oleh orang lain. William T. Littlewood (1984:
97) menyatakan bahwa guru bahasa Inggris harus menciptakan ruang untuk setiap
siswanya agar dapat mengekspresikan
dirinya di dalam kelas dan guru juga harus bekerja keras menciptakan suasana
kelas yang nyaman dalam hubungan kooperatif antar siswa dan guru karena kelas
adalah salah satu latar atau tempat
terjadinya komunikasi. Lebih
jauh (Rivers, 1983: ix)menyatakan bahwa selain menyediakan materi yang sesuai, guru juga harus kondisi kondusif untuk terjadinya komunikasi
Paulstan
and Bruder (1975: 55) menyatakan ‘games’ dapat digunakan untuk menciptakan
lingkungan kondusif bagi guru dan sesama siswa berkomunikasi secara alamiah.
2.2. Kerangka Berpikir
Siswa
sangat memerlukan situasi belajar yang nyaman, aman dan menyenangkan serta
metode pengajaran yang tepat untuk mereka bisa belajar, berkreasi dan
berinovasi. Permainan (game)
adalah salah satu metode sederhana yang memiliki banyak keunggulan yang bisa
mengembangkan wawasan siswa bukan hanya dibidang akademis dan non akademis.Yang lebih penting lagi adalah membentuk kebiasaan siswa berbicara
dan diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari hingga menjadi suatu kebiasaan.. Dengan demikian,dapat diduga bahwa
melalui teknik permainan (game)
dapat meningkatkan keterampilan berbicara bahasa inggris siswa.
2.3 Hipotesis
Tindakan
Hipotesis
diartikan sebagai rumusan jawaban sementara atau dugaan sehingga untuk
membuktikan benar tidaknya dugaan tersebut perlu duji terlebih dahulu (Anggoro,2007:27).,
"Hipotesis adalah dugaan yang mungkin benar dan mungkin salah".
Dugaan akan mungkin benar bila hasil pengujian menerimanya dan dugaan akan
salah bila fakta tidak mendukungnya. Atau dapat juga dikatakan, bahwa hipotesis
diterima atau hipotesis ditolak.
Dari kutipan di atas
dapat ditegaskan bahwa hipotesis adalah suatu pemikiran atau pendapat yang
belum dapat dipastikan atau dipercaya, sehingga benar tidaknya suatu hipotesis
baru dapat diterima apabila kebenarannya dapat dibuktikan dari hasil pengujian.
Terkait
dengan topik tulisan ini, penulis kemukakan hipotesis yang mendasari dan
mengarahkan seluruh proses serta pelaksanaan penelitian ini. Adapun hipotesis
tindakan yang digunakan adalah melalui teknik permainan (game) ‘Just-A-Minute!’ dapat meningkatkan kemampuan berbicara Bahasa Inggris siswa .
BAB
III
Metodologi
Penelitian
3.1 Rancangan
Penelitian
Penelitian
ini merupakan penelitian tindakan kelas (class
room action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan berbicara bahasa Inggris kelas 9 SMP N 3
Abiansemal tahun ajaran 2014/2015. Tindakan yang dilakukan adalah menggunakan
teknik permainan (game)
dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan
berbicara bahasa Inggris kelas 9 SMP N 3 Abiansemal tahun ajaran 2014/2015.
Rancangan penelitian
yang digunakan adalah rancangan model Kemmis yang terdiri atas empat langkah,
yakni: perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi (Wardhani, 2007: 45).
Model ini dipilih karena dalam menanamkan nilai-nilai moralitas melalui teknik
bercerita diwali perencanaan, kemudian
melaksanakan perencanaan tersebut, mengobservasi pelaksanaan tindakan, dan
melakukan refleksi terhadap tindakan yang dilakukan untuk melihat kelebihan dan
kekurangan tindakan yang dilakukan. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua
siklus, dan langkah-langkah dalam setiap
siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi.
3.2
Latar
Penelitian
a. Lokasi
Penelitian
Penelitian ini
dilaksanakan di SMP
Negeri 3 Abiansemal, kecamatan Abiansemal Kabupaten Badung, Provinisi
Bali. Pemilihan
lokasi ini karena peneliti sekaligus menjadi guru di tempat ini. Dengan
demikian, peneliti paling tahu kondisi nyata yang ada di lokasi penelitian. Di
sekolah ini kegiatan pembelajaran lebih dominan menggunakan metode penugasan sehingga kurang menjamin ketercapaian tujuan
pembelajaran. Dengan menggunakan teknik permainan (game) diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Penelitian ini
bulan Agustus sampai september 2014,
dengan tahapan penelitian terbagi atas dua siklus, dimana masing- masing siklus
meliputi perencanaan, tindakan observasi dan refleksi. Siklus I dilaksanakan
pada bulan Agustus 2014
dan siklus II dilaksanakan pada bulan September 2014.
b. Subjek Penelitian
Subjek dalam penelitian
ini adalah siswa kelas 9E SMP N 3
Abiansemal. Karakteristik lain subjek penelitian ini adalah
sebagian besar siswa berasal dari desa
dan kota pinggiran jauh dari daerah pariwisata. Dengan kondisi
seperti itu, tidak heran jika kemampuan
berbicara bahas Inggris siswa belum optimal..
3.3 Prosedur Penelitian
a. Pada Siklus I (Agustus) terdapat tahapan :
1. Perencanaan
Pada
tahap ini, langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Menentukan
hari dan waktu pertemuan sesuai dengan jadwal kelas yang ada .
b) Menentukan
jenis permainan
yang akan diberikan .
c) Menyiapkan
media sebagai pendukung kegiatan bercerita
d) Menyiapkan
instrument penilaian. .
2. Tindakan
Pada
tahapan ini, langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut:
a) Menyiapkan
seting kelas
b) Sebelum
pembelajaran dimulai dengan singkat guru
mengulas karakteristik permainan (game).
c) Guru
memberi contoh permainan (game).
d) Siswa melakukan permainan (game) secara berkelompok
sesuai dengan materi pembelajaran.
e) Guru
memotivasi siswa untuk aktif berbicara.
3. Observasi
Pada
tahapan ini langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Guru
mengobservasi reaksi anak-anak selama permainan (game).
b) Guru
mengevaluasi hasil akhir proses permainan
(game).
c) Guru
mengevaluasi kendala-kendala dan kesulitan yang ditemukan selama pelaksanaan
tindakan.
4. Refleksi
Refleksi
dilakukan diakhir tahap siklus I. Sebagai dasar adalah adanya perubahan kemampuan berbicara siswa setelah adanya
tindakan pada siklus I yang sesuai dengan instrument penilaian. Refleksi juga
dilakukan terhadap hasil Tanya jawab langsung antara guru dan siswa.. Hasil refleksi ini digunakan
sebagai dasar memperbaiki dan menyempurnakan perencanaan dan pelaksanaan
tindakan pada siklus II.
- Pada Siklus II (September 2014
) terdapat beberapa tahapan:
1. Perencanaan
Pada
tahap ini langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut:
a) Menentukan
jenis permainan (game)
yang diberikan
b) Menyiapkan
media sebagai pendukung kegiatan bercerita
c) Menyiapakan
instrument penilaian
2. Tindakan
Pada
tahap ini langkah-langkah yang dilakukan adalah :
a) Menyiapkan
seting kelas
b) Sebelum
pembelajaran dimulai dengan singkat guru
mengulas karakteristik permainan (game).
c) Guru
memberi contoh permainan (game).
d) Siswa melakukan permainan (game) secara berkelompok
sesuai dengan materi pembelajaran.
e) Guru
memotivasi siswa untuk aktif berbicara.
3. Observasi
Pada
tahap ini langkah-langkah yang dilakukan adalah:
a) Guru
mengobservasi reaksi anak-anak selama permainan (game).
b) Guru
mengevaluasi hasil akhir proses permainan
(game).
c) Guru
mengevaluasi kendala-kendala dan kesulitan yang ditemukan selama pelaksanaan
tindakan..
4. Refleksi.
Refleksi
dilakukan pada akhir siklus II. Sebagai dasar adalah perubahan kemampuan berbicara siswa setelah
diadakan tindakan pada sikllus II serta
hasil tanya jawab guru dan siswa
seputar materi
yang telah disampaikan. Hasil refleksi ini akan digunakan sebagai dasar untuk
menyusun rekomendasi dari penelitian ini, bagaimana kebaikannya, kekurangannya
serta peluang untuk penerapannya.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S, Suhardjono,
Supardi, Penelitian Tindakan Kelas, Jakarta: Bumi Aksara, 2009
Depdikbud, Kurikulum Pendidikan Dasar, Jakarta:
Depdikbud, 1993
Dimyati, Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran,
Jakarta: Direktorat Jenderal Perguruan Tinggi.Depdikbud, 1994
Dr. Sri Rahayu Pudjiastuti, M.Pd, Metode
Penelitian Pendidikan, Jakarta: STKIP Press, 2006
Lim,Ai
lian. 2007. Teaching Children Through Stories. http://valuebookshop.com. Tanggal Download : 2 Februari 2008
Manuel,
Purificacaion. 2000. Debate: Should Moral
Be Taught In The Classroom . Artikel.
Muslich M, Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan
Kontekstual Panduan bagi Guru, Kepala Sekolah dan Pengawas, Jakarta: Bumi
Aksara, 2007
Nurkancana, Wayan dan
Suhartana, Evaluasi Hasil Belajar, Surabaya: Usaha Nasional, 1992